Salah Apa Aku? "Teriak Cuaca"
Assalamu'alaikum Sahabat,
panas dingin kemarau kita rasakan dinegeri Indonesia tercinta ini. Karena kita
ada banyak musim, Alhamdulilah.
Ramalan pembagian musim sering kita dengar ditelevisi,
aktivitaspun bisa ditempatkan sesuai cuaca agar kata "sedia payung sebelum
hujan" tak hanya menjadi kata aja. Tapi, sebuah ramalan tak selalu tepat
sesuai perkiraan makhluk-Nya, jika Allah berkehendak "Kun fayakun"
maka jadilah. Seperti saat ini harusnya musim panas tapi malah musim penghujan,
atau sebaliknya. Apalagi kalau kemarau panjang singgah banyak orang yang
mencari sumber mata air, tak dapat dipungkiri menyalahkan cuacapun sering
manusia lakukan. Seperti "kq malah hujan, bagaimana pakaianku basah semua,
kerjaanku gak fokus, dll. Atau ini panas kayak di neraka aja! Coba kalo hari
ini turun hujan pasti kerjaanku beres". Bolehkah kita menyalahkan cuaca?
Dalam kitab karya Syekh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, Syarhu Kitabit Tauhid. Di
dalam sebuah hadits qudsi yang
diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah SAW. Bersabda;
“Allah’azza wa jalla berkata: Anak keturunan Adam telah
menyakiti-Ku karena dia mencela masa padahal Aku adalah (pengatur) masa. Urusan
ini berada di tangan-Ku. Aku mengatur malam dan siang.” [HR Al Bukhari (4826) dan
Muslim (2246)].
Di dalam
riwayat Muslim disebutkan:
“Janganlah kalian mencela masa karena sesungguhnya
Allah Dialah (Pengatur) masa.”
Para ulama merinci tentang ucapan-ucapan dan
komentar-komentar burukk tentang masa yang diucapkan oleh ke dalam tiga macam,
yaitu:
1. Mencela cuaca atau masa dengan meyakini bahwa ia
adalah pelaku utama terjadinya kejelekan dan keburukan sesuatu, ini hukumnya
adalah syirik akbar karena dia meyakini adanya pencipta lain selain Allah ta’ala
dan menyandarkan terjadinya suatu peristiwa kepada selain Allah.
Contohnya seperti mengatakan: “Aku benci musim kemarau karena ia menimbulkan bencana kelaparan.” Atau “Tahun ini merupakan tahun pembawa kesialan.” Bila dia mengucapkan celaan ini dengan diiringi keyakinan bahwa
ia adalah pelaku utama terjadinya kelaparan atau musibah lainnya maka ini
adalah syirik akbar.
2. Dia meyakini bahwa pelaku sebenarnya adalah Allah,
akan tetapi dia mencela cuaca atau masa karena ia merupakan tempat terjadinya
bencana atau kejelekan tersebut, maka ini hukumnya adalah haram karena dia
tidak mencela Allah secara langsung.
Contohnya seperti mengatakan: “Musim hujan ini hanya membawa bencana banjir saja.” atau “Masa krisis moneter seperti sekarang ini membuatku usahaku
bangkrut.” Bila dia mengucapkan
seperti ini tanpa ada keyakinan seperti yang telah dijelaskan di atas, maka ini
hukumnya haram.
Meskipun dia tidak mencela Allah, namun pada
hakikatnya celaannya terhadap cuaca atau masa tadi secara tidak langsung
kembali kepada Allah karena Dia-lah yang mengatur pergerakan cuaca dan
peredaran masa. Oleh karena itu, celaaan seperti ini tetap tidak boleh
diucapkan.
3. Apabila maksud dari ucapannya adalah sekedar kabar
atau pemberitahuan dan bukan celaan maka ini hukumnya adalah boleh. Contohnya seperti
mengatakan: “Aku tidak tahan dengan
cuaca dingin ini.” atau “Panas hari ini membuatku sangat lelah.” atau yang semisalnya.
Sebaiknya dalam menyikapi hal ini mari kita mencari
hikmah dalam setiap kejadian, seperti dingin karena hujan. Kita merasakan
dingin seperti mereka orang jalanan yang tidur dipinggir jalan karena tak
mempunyai papan sebagai peneduh atau lebih bersyukur lagi dari saudara kita
yang tinggal di kutub utara. dari mencari hikmah inshaAllah bisa membuat kita
bersyukur dan mengasihi sesama saudara.
“ Jangan
banyak bicara tentang hal yang ga penting, karena itu sama aja membuat dirimu
gak penting”
Salam Muslimah Sejati ^_^
Wassalamu'alaikum
By; Luthfi
Salma Gozali
Baik mungkin itu saja postingan kali ini tentang Salah Apa Aku? "Teriak Cuaca". Jangan lupa Share dan
komentarnya apabila ada saran atau masukan. Semoga artikel ini bermanfaat.
Terima Kasih
Komentar
Posting Komentar