Jauhkan diri dari mencela zaman


Jauhkan diri dari mencela zaman

Assalamu'alaikum Sahabat, ketika menghadapi berbagai musibah seperti kematian, kehilangan harta benda dan kesengsaraan hidup, orang-orang arab cenderung mencela dan menyalahkan zaman seraya berkata, "sesungguhnya yang menghancurkan kita tidak lain adalah zaman." Mencela Zaman sama saja mencela Allah, karena Allah adalah Tuhan yang mengatur pergantian dan perjalanan zaman.

"Allah azza wa jalla berfirman, "ibnu adam menyakiti-Ku. Ia mencela zaman, sedang aku adalah (pemilik) zaman. Aku yang membolak-balikkan malam dan siang."" (H.R. Muslim)

Tidak ada suatu musibah yang menimpa kita melainkan disebab dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan. Jika setiap kali mendapat musibah kita selalu mencela zaman, maka kita tidak akan pernah menemukan penyebab hakiki dari setiap musibah yang kita alami. Hal itu berarti, kita akan senantiasa berada dalam lingkaran musibah dan tidak akan pernah mampu keluar dari perangkapnya.

Diriwayatkan bahwa imam syafi'I berkata,
"Kita mencela zaman kita, sedang aib itu terdapat pada diri kita sendiri
Zaman kita tidak memiliki aib sedikitpun kecuali diri kita
Kita seringkali mencela zaman tanpa kejahatan yang dilakukan
Seandainya zaman dapat berbicara, niscaya ia akan mencela kita."

Kebiasaan mencela dan menyalahkan zaman akan membutakan diri kita, sehingga tidak mampu melihat berbagai inspirasi kebaikan yang terpampang sepanjang zaman. Diantara inspirasi kebaikan itu adalah bahwa zaman akan selalu tampil baru, tidak akan pernah rusak dan usang. Seorang laki-laki berkata pada Al-Ashmu'I "zaman telah rusak", ia menjawab "sesungguhnya al-jadidaini (siang dan malam) yang datang silih berganti tidak akan pernah rusak. Akan tetapi yang rusak adalah orang-orang yang hidup didalamnya.

Jadi, zaman akan selalu berganti dan tampil baru. Karenanya, siang dan malam dalam bahasa arab dinamakan al-jadidaini (dua hal yang selalu baru). Sebagai konsekuensinya, kita harus senantiasa melakukan pembaharuan, membekali diri dengan wawasan dan keterampilan baru agar mampu mengiringi perkembangan zaman. Bahkan, kita mampu menjadi bagian dari tokoh-tokoh penting yang mengarahkan perjalanan sejarah dizaman anda. Jika tidak melakukan upaya di atas, anda akan menjadi orang yang tenggelam dan tertelan zaman, karena setiap zaman memiliki tokoh-tokohnya sendiri (likulli ashrin rijaaluhu).

Kita juga harus membantu anak-anak kita untuk menggali karakter dan keterampilan baru agar mampu mengatasi problematika yang akan muncul dizaman mereka, mampu menjaga keberlangsungan kesuksesan kita dan merealisasikan kesuksesan besar yang belum pernah kita realisasikan. Jangan pernah memaksa mereka untuk taklid buta mengikuti karakter dan keahlian yang kita miliki. Akibatnya mereka tidak mampu menghadapi preoblematika zamannya.
Diriwayatkan bahwa Ali berkata
"Janganlah kamu memaksa anak-anakmu untuk meniru akhlakmu, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu."

Perhatikanlah tindakan-tindakan kita karena ia akan menjadi penentu kebaikan dan keburukan zaman kita. Camkan kaedah yang ditetapkan para ulama,
"Al-muhafadhah alal qadimish saleh wal akhzu bil-jadidil ashlah." (Memelihara hal lama yang masih baik dan mengambil hal baru yang lebih baik)." Jadikan kaedah itu sebagai dasar untuk menjaga kontinuitas kebaikan menuju prestasi-prestasi kebaikan baru yang lebih besar. Sadarlah bahwa setiap upaya akan mengundang reaksi penolakan dan penilaian. Oleh karena itu, jangan pernah surut jika yang kita upayakan adalah kebaikan.

Abu Darda' berkata,
"apa yang kamu ingkari dari zamanmu adalah disebabkan apa yang kamu ubah dari amal perbuatanmu. Jika itu kebaikan, maka alangkah bahagianya. Jika itu keburukan, maka alngkah sedihnya. Begitulah yang telah aku dengar dari Nabimu." (H.R. Thabarani)

Nah Sahabat penjelasan diatas merupakan gabungan dari beberapa buku dan pendapat, kala itu anaa sedang dalam masalah rumit, karena teman anaa jadikan pijakan masa depan, maka dia memberikan anaa buku ini.

"Zaman sekali-kali menyalahkan zaman."
Salam Muslimah Sejati^_^

Wassalamu'alaikum


By; Luthfi Salma Gozali

Komentar

  1. kalau bisa kembali ke zaaman dahulu , mungkn tidak akan menyalahkan zaman sekarang hihi

    BalasHapus

Posting Komentar