Berpikir sebagai aktivitas mental


Assalamu'alaikum Sahabat, berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Akan tetapi, pikiran manusia walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia. Berpikir berarti berjerih payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Memang semua masalah ada solusinya namun demi menemukan solusi kita harus berpikir sahabat, tak mungkin seseorang tak berpikir. Walaupun kadang seseorang bilang "lagi males mikir!" Padahal dia sedang mikir kemalasan.

Biasanya, kegiatan berpikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan untuk dijawab atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan pemecahan. Bukan hanya jawaban kimia yang hitungannya gram, ml, cm atau fisika dengan kg, g, atau dengan hukum new ton yang hasilnya tak jauh dari -2 sampai +2, tapi coba kita bayangkan ketika guru memberikan sebuah pertanyaan pada murid kemudian tak ada satupun dari mereka yang menjawab, apakah mereka diam mengacuhkan? Tidak! Mereka berpikir seakan berlomba menemukan jawaban yang bisa mereka jadikan poin dalam satu pelajaran.

Perbedaan pendapat takan pernah hilang dalam dunia ini, karena cara berpikir merekapun berbeda. Perbedaan dalam cara berpikir dan memecahkan masalah merupakan hal nyata dan penting. Perbedaan ini mungkin sebagian disebabkan oleh faktor pembawaan sejak lahir dan sebagian lagi berhubungan dengan taraf kecerdasan seseorang. Namun, jelas bahwa proses keseluruhan dari pendidikan formal dan pendidikan informal sangat mempengaruhi gaya berpikir seseorang di kemudian hari, di samping dipengaruhi pula mutu pemikiran.

Para ahli melihat ihwal berpikir ini dari perspektif yang berlainan pula. Ahli-ahli psikologi asosiasi, misalnya menganggap bahwa berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan ketika subjek berpikir pasif. Plato beranggapan bahwa berpikir adalah berbicara dalam hati. Sehubungan dengan pendapat plato ini, ada yang berpendapat bahwa berpikir adalah aktivitas ideasional (woodworth dan marquis). Pada pendapat yang terakhir itu dikemukakan dua kenyataan, yakni;
1. Berpikir adalah aktivitas
Jadi, subjek yang berpikir aktif
2. Aktivitas bersifat ideasional
Jadi, bukan sensoris dan bukan mtoris, walaupun dapat disertai oleh kedua hal itu.

Dalam perspektif islam, agama ini membatah akidah apapun, kecuali yang didasari argumentasi dan pandangan mendalam serta pikiran jernih. Karena Al-qur'an mencela orang-orang yang berakidah batil;
"Katakanlah (hai Muhammad);'berikanlah argumentasi kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.'"(Q.S. 2 :11)

Firman Allah
"Katakanlah: 'sesungguhnya aku hendak memperingatkanmu suatu hal saja, yaitu; agar kamu menghadap Allah, baik dalam keadaan berdua maupun sendiri, kemudian engkau pikirkan (tentang muhammad) teman kamu, sedikitpun tidak berpenyakit gila, tak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum kamu menemui azab yang amat dasyat."(Q.S. 34 : 46)

Menurut Yusuf al-qardhawi, yang mendorong abbas al'akkad mengeluarkan sebuah buku yang diberi judul At-Tafkiiru Faridlatan islamiyatun (Berpikir adalah kewajiban islam). Sebuah ungkapan yang sahih. Sebab, sebagaimana islam memerintahkan ibadah, memerintahkan pula berpikir. Menurut islam, akidah harus berdasarkan ilmu, bukan dengan penyerahan diri secara buta.
Allah berfirman
"Maka ketahuilah bahwasannya tidak ada tuhan selain Allah (Tuhan yang esa)."(Q.S. 47 : 19)

Dalam islam seruan berpikir, memperhatikan dan mengetahui tidak dikhawatirkan akan membawa dampak negatif yang bertolak belakang dengan kebenaran agama. Sebab, islam beranggapan bahwa: kebenaran agama tidak akan bertentangan dengan kebenaran rasio. Kebenaran mustahil bertentangan dengan kebenaran. Yang yakin, kata Al-Qardhawi , mustahil bertentangan dengan yang yakin pula. Jika ternyata keduanya bertentangan, kemungkinannya ada 2 : Naqlinya yang tidak shahih atau akalnya yang tidak sahih. Hal seperti ini sering terjadi pada kehidupan kita. Sesuatu yang sebetulnya bukan agama dianggap agama atau yang bukan ilmu dianggap ilmu. Padahal, seperti dikatanya Al-Qardhawi, pemahaman oleh penganut suatau agama tidak dengan sendirinya menjadi ketentuan agama, seperti tidak semua teori ilmuwan dinyatakan sebagai ilmu.

"Berpikirlah sebelum memutuskan sesuatu."
Salam Muslimah Sejati^_^

Wassalamu'alaikum


By; Luthfi Salma Gozali

Komentar